Efforts to Preserve the Historical and Cultural Values of Traditional Amparan Tatak Cuisine in Samarinda
Keywords:
Pelestarian, Sejarah, Budaya, Amparan TatakAbstract
This study aims to explore the historical and cultural significance of the traditional amparan tatak cuisine in Samarinda and formulate efforts to preserve it in modern society. Amparan tatak, a typical moist cake from East Kalimantan, is not merely a dessert but a symbol of cultural identity closely related to the traditions, religion, customs, and social life of the local community. The research method used a descriptive qualitative approach, while data collection techniques included observation, documentation, literature study, and interviews with culinary entrepreneurs, community leaders, culinary teachers, and residents directly involved in the preservation of amparan tatak cuisine. The results of the study show that amparan tatak has historical value that is closely related to religious celebrations and traditional events, and has been passed down from generation to generation. The cultural values contained in the process of making and serving amparan tatak reflect the spirit of mutual cooperation, simplicity, and symbolic meaning in the social life of the community. In addition, amparan tatak also contributes economically to the community, especially to MSME players, and serves as a medium for strengthening local identity amid the tide of globalization. However, the lack of documentation and regeneration remains a challenge in preserving this culinary tradition. Therefore, strategic efforts involving synergy between the government, community, and educational institutions are needed to preserve the existence of traditional amparan tatak cuisine as part of cultural heritage.
References
[1] Andriani, Y., & Munir, S. 2021. Eksistensi kuliner tradisional dalam identitas budaya lokal masyarakat Kalimantan Timur. Jurnal Gastronomi Nusantara, 5(2), hal. 100–110.
[2] Aswadi, M. 2019. Kuliner tradisional sebagai ekspresi budaya: Studi kasus pada komunitas Banjar di Samarinda. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 7(1), hal. 55–63.
[3] Handayani, D. 2024. Makna Konteks dalam Analisis Data Kualitatif: Perspektif Sosiokultural. Jurnal Ilmiah Komunikasi Sosial, 4(1), hal. 78–89.
[4] Heryanto, A. 2018. Pelestarian Budaya Kuliner sebagai Strategi Identitas Lokal. Jurnal Etnografi Nusantara, 8(1), hal. 76–88.
[5] Kaltimkece.id. Amparan Tatak Diusulkan jadi Warisan Budaya Samarinda. (2025, Maret) ResearchGate+4Kaltim Kece+4Wikipedia+4
[6] Koran Kaltim Post. “Kemenbud Proses Tiga Kuliner Samarinda Diusulkan Jadi Warisan Budaya Takbenda”. (2024).Diakses dari:
[8] Koran Kaltim Post. “Festival Kuliner, Strategi Pemkot Mengangkat Makanan Tradisional Samarinda ke Ranah Digital”.(2024). Diakses dari: https://korankaltim.com
[9] Maharani, D., & Wulandari, S. 2022. Perempuan dan Budaya Lokal: Peran Strategis dalam Pelestarian dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Rakyat.
[10] Maulida,S. & Nurdin,M. 2021. Pemberdayaan UMKM Kue Tradisional melalui Pendampingan Sertifikasi dan Kemasan Produk. Anterior: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), hal. 12-21.
[11] Moleong, Lexy J. 2019. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[12] Nugroho, E. 2021.Media Sosial dan Konservasi Budaya Kuliner Tradisional. Jurnal Komunikasi Indonesia, 10(1), hal. 25-38.
[13] Nurlela, D. Perempuan dan Budaya Kuliner Banjar: Studi Etnografi Kuliner Tradisional di Kalimantan Timur. Jurnal Etnografi Nusantara,3(1),(2022): 45-58.
[14] Puji Lestari, D. N., & Rachman, A. Strategi Pelestarian Kuliner Tradisional melalui Festival Makanan Daerah. Gizi dan Kesehatan Nusantara, 4(2),(2025): 45–57.
[15] Rachmawati, E., dan L. Nurhasanah. 2021. Revitalisasi Kuliner Tradisional Melalui Inovasi Kemasan dan Branding Produk UMKM. Jurnal Kreatif: Desain Produk Industri dan Arsitektur 11, no. 1 hal. 45–52.
[16] Rahmawati, N. P. N., Musfeptial, & Syarifuddin, R. 2014. Makna Simbolik dan Nilai Budaya Kuliner “Wadai Banjar 41 Macam” pada Masyarakat Banjar Kalsel. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
[17] Republik Indonesia. 2022. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Amandemen keempat. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
[18] Sarip, M., Hajati, S., & Harma, W. P. 2024. Kajian Historis dan Kultural Amparan Tatak sebagai Kuliner Tradisional Khas Samarinda. Jurnal Riset Inossa: Media Hasil Riset
[19] Pemerintahan, Ekonomi dan Sumber Daya Alam, 6(2),hal. 51–64.
[20] Sarip, M., & Hajati, R. 2025. Kajian Historis dan Kultural Amparan Tatak sebagai Kuliner Tradisional Khas Samarinda. Jurnal Riset Inossa, 6(2), hal. 45–56.
[21] Siregar, A. 2019. Kepekaan Peneliti dalam Penelitian Kualitatif: Kajian Metodologi. Jurnal Kajian Ilmu Humaniora, 2(3), hal. 201–210.
[22] Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
[23] Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta.
[24] Yulianita, R. 2021. Strategi Analisis Data Kualitatif dalam Penelitian Sosial. Jurnal Penelitian Sosial Humaniora, 3(2), hal. 134–146.








